Oleh: yandresti | Oktober 29, 2010

Pawiwahan Yan Dresti dan Pande Wimbawati Penuh Restu

Bulan September merupakan bulan yang paling berbahagia bagi pasangan Yan Dresti dan Pande Wimbawaty, karena kedua pasangan ini akan segera mengakhiri masa lajang meraka berdua tepat pada tanggal 13 September 2010. Persiapan upacara sudah mulai dipersiapkan dari satu bulan sebelumnya, seperti memilih dewasa pawiwahan ,  mempersiapkan bebanten dan sesajen upacara, pencetakan surat undangan, sampai pada persiapan mental kedua pasangan.

Pernikahan Dresti dan Pande dilaksanakan sesuai dengan adat dan Agama Hindu Bali di Desa Adat Sibetan, yaitu pernikahan dilakukan di rumah calon pengantin laki-laki pada hari yang dianggap baik oleh Pandita Hindu di Bali. Di sini pengantin baru Wayan Dresti Yasa dan Pande Kadek Ary Wimbawati  tinggal di rumah keluarga besar Jro Mangku Pasek di Banjar Tengah, Sibetan Bebandem Karangasem, Bali.

Dresti dan Pande melangsungkan pernikahan dengan cara memadik atau meminang Dimana pihak laki-laki meminta kepada orang tua pihak perempuan untuk menikahkan anak laki-laki mereka dengan anak gadis dari pihak perempuan. Namun proses memadik cukup panjang ceritanya, tanggal 5 September 2010 ini dianggap dewasa baik untuk mulai Mesedek, yaitu Pihak Keluarga Yan Dresti memberitahukan kepada pihak keluarga Pande Kadek bahwa Pande kadek akan segera dilamar dalam waktu dekat. Pada saat Mesedek inilah merupakan awal dari proses pernikahan yang penuh dengan berkah dan restu, karena semua pihak akan mengetahui bahwa Pihak perempuan sudah menyatakan setuju untuk menerima tawaran dari pihak laki-laki. Pada kesempatan ini keluarga pande kadek ary menerima dan menyanggupi permintaan keluarga yan dresti bahwa proses memadik dilaksanakan tanggal 9 September 2010.

Kemudian setelah disetujui dan disepakati, maka mulailah terlihat kesibukan persiapan memadik di rumah yan dresti. Keluarga dan kerabat mulai berdatangan untuk membatu membuat persiapan seperti mendirikan bangunan warung tempat para tamu dan persiapan sesaji, serta bebanten. Hari keempat adalah acara memadik, keluarga dan kerabat berdatangan untuk ikut menyaksikan, disamping itu kelihan adat dan kelihan dinas serta Prebekel turut diundang untuk menyaksikan sekaligus menyelesaikan proses memadik.  Pada acara memadik ini didahului dengan proses serah terima oleh kedua adat, yaitu desa adat Nongan melepaskan warganya dan desa adat Sibetan menerima dengan sah sebagai warga desa adat. Lalu prosesi dilanjutkan dengan persembahyangan kedua mempelai mepamit di merajan Pande kadek yang dipimpin oleh Jro mangku Tastra.

Beberapa foto prosesi pawiwahan Yan Dresti dan Pande,  yang berhasil ditangkap oleh kamera ponsel!

Menurut kepercayaan Hindhu di Bali, pernikahan merupakan acara yang sangat sakral dan suci. Pernikahan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali, karena pada saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat, dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat.
“Moksartham Jagadhita ya ca iti dharmah”, yang berarti bahwa tujuan beragama adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketentraman batin (kedamaian abadi).
Ajaran tersebut selanjutnya dijabarkan dalam konsepsi Catur Purusa Artha atau Catur Warga yang berarti empat dasar dan tujuan hidup manusia, yang terdiri dari:
1. Dharma : Merupakan kebenaran absolut yang mengarahkan manusia untuk berbudi pekerti luhur sesuai dengan ajaran agama yang menjadi dasar hidup.
2. Artha : Adalah kekayaan dalam bentuk materi/ benda- benda duniawi yang merupakan penunjang hidup manusia.
3. Kama : Adalah keinginan untuk memperoleh kenikmatan (wisaya). Kama berfungsi sebagai penunjang hidup yang bersifat tidak kekal.
4.Moksa : Adalah kelepasan, kebebasan atau kemerdekaan (kadyatmikan atau Nirwana) manunggalnya hidup dengan Pencipta (Sang Hyang Widhi Wasa) sebagai   tujuan utama, tertinggi, dan terakhir.
Tahapan untuk mewujudkan 4 tujuan hidup itu disebut dengan Catur Asrama.
1.Brahmacari Asrama
Adalah tingkat masa menuntut ilmu. Masa Brahmacari diawali dengan upacara Upanayana dan diakhiri dengan pengakuan dan pemberian Samawartana (Ijazah).
2.Grhasta Asrama
Adalah tingkat kehidupan berumahtangga. Masa Grehasta Asrama ini adalah merupakan tingkatan kedua setelah Brahmacari Asrama. Dalam memasuki masa Grehasta diawali dengan suatu upacara yang disebut Wiwaha Samskara (Perkawinan) yang bermakna sebagai pengesahan secara agama dalam rangka kehidupan berumahtangga (melanjutkan keturunan, melaksanakan yadnya dan kehidupan sosial lainnya).
3.Wanaprastha Asrama
Merupakan tingkat kehidupan ketiga. Dimana berkewajiban untuk menjauhkan diri dari nafsu keduniawian. Pada masa ini hidupnya diabdikan kepada pengamalan ajaran Dharma. Dalam masa ini kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, melainkan ia mencari dan mendalami arti hidup yang sebenarnya, aspirasi untuk memperoleh kelepasan/moksa dipraktekkannya dalam kehidupan sehari- hari.
4.Sanyasin Asrama (bhiksuka)
Merupakan tingkat terakhir dari catur asrama, di mana pengaruh dunia sama sekali lepas. Mengabdikan diri pada nilai-nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang benar. Pada tingkatan ini, ini banyak dilakukan kunjungan (Dharma yatra, Tirtha yatra) ke tempat suci, di mana seluruh sisa hidupnya hanya diserahkan kepada Sang Pencipta untuk mencapai moksa
Perkawinan atau wiwaha dalam adat Hindu di Bali merupakan upaya untuk mewujudkan hidup Grhasta Asmara, tugas pokoknya menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut „Yatha sakti Kayika Dharma“ yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma.
Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma secara profesional haruslah dipersiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.

Dalam hal ini pasangan pengantin seperti Yan Dresti dan Pande Kadek harus mengikuti ritual keagamaan Hindu Dharma Bali.
Soma Wage Dukut, tanggal 13 September 2010, mulai dari pagi hari keluarga dan kerabat Yan Dresti mempersiapkan Sarana seperti Segehan cacahan warna lima,api takep (api yang dibuat dari serabut kelapa), tetabuhan (air tawar, tuak, arak),Padengan-dengan/ pekala-kalaan,Pejati,Tikar dadakan (tikar kecil yang dibuat dari pandan), Pikulan (terdiri dari cangkul, tebu, cabang kayu dadap yang ujungnya diberi periuk, bakul yang berisi uang),Bakul dan Pepegatan terdiri dari dua buah cabang dadap yang dihubungkan dengan benang putih yang akan digunakan untuk prosesi mewidhi-widhana.
Mewidhi-widhana atau mekalah-kalahan (Upacara Perkawinan)merupakan upacara puncak atau tertinggi dalam pernikahan adat Bali. Disaksikan oleh warga dan tokoh adat banjar Tengah Sibetan sebagai saksi di dunia, dan juga  banten atau sesajen sebagai saksi persembahandi hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wase (Tuhan). Dan juga disaksikan oleh bhuta kala yang diwujudkan dengan mempersembahkan “segehan” dan “pecaruan”.

Bunyi genta di tangan Sri Empu Paramasadu Daksa Nata menandakan dimulainya ritual uapacara pernikahan, diiringi dengan kidung pernikahan yang dinyanyikan oleh kerabat, semakin sakral dan suci bagi awam yang melihatnya. Sebelum upacara natab banten pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita. Kemudian mempelai mengelilingi sanggah Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki, diteruskan dengan praktik menanam umbi-umbian. Kemudian dilakukan mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan. Setelah itu penganten pun khusuk berdoa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase (Tuhan) untuk mendapat berkat suci dariNya supaya tali kasih mereka semakin suci dan kekal sepanjang jaman. Bau dupa dan semerbak bunga sesajenpun semakin menambah khusuk bagi pengantin untuk  menerima percikan air suci atau tirtha  dari Sri Empu Paramasadu Daksa Nata yang memimpin upacara pernikahan kali ini. Sebagai akhir dari upacara pawiwahan Dresti dan Pande adalah kedua mempelai sembahyang di pura leluhur dadya Pasek di Sibetan.


Responses

  1. Bli, selamat menempuh hidup baru ya, meskipun terlambat, karena saya baru jumpa blognya.
    Salut untuk usaha bli dalam usia muda berusaha untuk membangun umat melalui dunia maya. Berkarya terus saya yakin siring perjalanan waktu akan menjadi hebat dan matap.

    • inggih, suksma ping banget majeng ring bli sucita, ampurayang pisan nak nambet niki blog tiange,..titiyang taler kantun melajah, ngiring tiang taleh akeh jagi metaken seputar blog lan seputar budaya, lan ritual yang ada di Bali. kenalkan titiyang. dados add ring FB (Yan Dresti) atau (dresti_yasa2000@yahoo.com) suksma.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: